Perjalanan

Dia duduk di sebelah kananku di bus menuju tempat kembali—kami pulang. Dengan lembutnya ia mengusap gerai hijabku dengan senyumnya yang meluluhkan segala gelisah. Tatapannya hangat seakan berkata “jangan bersedih, aku sudah di sini.”

Dia mendekapku dengan lembut, aku melabuhkan kepalaku tepat di bahu kokohnya, berharap beratnya isi kepalaku luntur bersama turunnya air mata yang tak mampu aku bendung dari tadi. Membiarkanku dan dirinya mematung mempertemukan rindu. Tanpa seuntai kata yang terlontar, ia mengerti. Diam adalah cara menenangkanku. Tubuhnya sedikit pun tak usik dari sampingku. Dia terus saja mengusap kepalaku membuat aku semakin terisak—sedu, meski berusaha aku tahan dengan tidak mengedipkan mataku. Segala bayangan muncul di kepalaku; kasihnya, perjuangannya dan pengorbanannya. Terlintas bebannya lebih berat dari yang kurasakan saat ini. Wajah cantiknya tak berani aku tatap, aku sedang menyembunyikan air mataku. Aku merasakan detak jantungnya—menenangkan. Aromanya menenteramkan. Aku tahu dia pun sedang menahan tangis perjumpaan dan perpisahan yang hilir mudik terjadi. Tapi ia selalu tegar menahan tangisnya untukku. Pahlawanku ini, kini bersamaku. Mama.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Why Is My Name?

Muallaf- John Michaelson