Perjalanan
Dia duduk di sebelah kananku di bus menuju tempat kembali—kami
pulang. Dengan lembutnya ia mengusap gerai hijabku dengan senyumnya yang
meluluhkan segala gelisah. Tatapannya hangat seakan berkata “jangan bersedih,
aku sudah di sini.”
Dia mendekapku dengan lembut, aku melabuhkan kepalaku tepat
di bahu kokohnya, berharap beratnya isi kepalaku luntur bersama turunnya air
mata yang tak mampu aku bendung dari tadi. Membiarkanku dan dirinya mematung
mempertemukan rindu. Tanpa seuntai kata yang terlontar, ia mengerti. Diam
adalah cara menenangkanku. Tubuhnya sedikit pun tak usik dari sampingku. Dia
terus saja mengusap kepalaku membuat aku semakin terisak—sedu, meski berusaha
aku tahan dengan tidak mengedipkan mataku. Segala bayangan muncul di kepalaku;
kasihnya, perjuangannya dan pengorbanannya. Terlintas bebannya lebih berat dari
yang kurasakan saat ini. Wajah cantiknya tak berani aku tatap, aku sedang
menyembunyikan air mataku. Aku merasakan detak jantungnya—menenangkan. Aromanya
menenteramkan. Aku tahu dia pun sedang menahan tangis perjumpaan dan perpisahan
yang hilir mudik terjadi. Tapi ia selalu tegar menahan tangisnya untukku.
Pahlawanku ini, kini bersamaku. Mama.
Ku tak tau apa yg kamu pikirkan D atas itu, tpi aku selalu suka dengan karyamu!❤️
ReplyDeleteUwouw
ReplyDeleteUwouw
ReplyDeleteUwowowow
ReplyDeleteYeh:(
Delete